Saturday, 30 January 2016

Daftar Dosa-dosa Guru, Wajib diketahui dan dihindari

Menjadi seorang guru merupakan profesi yang sangat Ideal bagi beberapa orang. Karena selain pekerjaannya (dianggap) relatif ringan juga profesi guru (dianggap) mempunyai gaji yang cukup tinggi. Tapi kenyataannya karena banyak guru yang menginginkan gaji yang tinggi tanpa memantaskan dirinya untuk diberikan gaji tinggi memunculkan dosa-dosa bagi sang guru.


Saya coba mencari dan berdiskusi dengan seorang pedagang gorengan dipinggir jalan. Dari diskusi itu dapat disimpulkan tidak sedikit guru-guru (termasuk dosen juga ya) melakukan dosa-dosa dikarenakan tidak menjalankan kewajibannya yang diamanahkan oleh UU no 14 Tahun 2005.

Berikut ini Daftar dosa yang sering dilakukan oleh seorang guru karena tidak menjalankan kewajibannya yang diamanahkan UU no 14 tahun 2005:

1. Tidak memberikan proses pembelajaran yang bermutu
Salah satu yang diamanahkan UU No. 14 Tahun 2005 guru wajib melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Tapi ternyata banyak guru tidak melakukan pembelajaran yang bermutu, masuk kelas mengajar seadanya.Tidak sedikit guru yang mengajar di kelas tanpa memerhatikan metode pembelajaran, gaya belajar siswa, Tidak menggunakan media pembelajaran dan guru tidak memahami materi yang diajarkan. Hal ini dapat membuat pembelajaran tidak bermutu, sehingga menjadi dosa guru.

2. Tidak merencanakan proses pembelajaran terlebih dahulu sebelum masuk kelas
Tidak merencanakan proses pembelajaran terlebih dahulu sebelum masuk kelas merupakan rahasia umum untuk pendidikan di Indonesia. Padahal rencana proses pembelajaran (RPP) berfungsi sebagai rambu-rambu untuk guru melakukan proses pembelajaran.

Semestinya guru sudah tahu materi apa yang mau diajarkan, metode pembelajaran yang digunakannya apa, media pembelajarnnya apa, langkah-langkah proses pembelajarannya apa, evaluasinya seperti apa dan sebagainya. Dari itu guru wajib memiliki dan memahami RPP-nya masing-masing. Kalau tidak Ini juga akan menjadi dosa seorang guru.

3. Tidak mengevaluasi hasil pekerjaan siswa baik itu di sekolah ataupun pekerjaan rumah (PR)
Saya masih ingat waktu kuliah sekitar tahun 2008 lalu, saya dan teman-teman saya sekelas diberikan tugas oleh seorang dosen Bahasa Indonesia yaitu untuk membuat evaluasi dari buku yang beliau buat. Buku itu cukup tebal sekitar 250 halaman, mahasiswa di tugaskan untuk mengecek EYD pada buku itu. Dengan memberikan tanda menggunakan Stabilo dan memberikan masukan berupa resensi buku dalam bentuk makalah.

Singkat cerita tugas ini sudah dikerjakan, buku yang isinya sudah kami cek EYD dan makalah yang berisi resensi kami kumpulkan pada beliau. Saya diminta oleh beliau mengantarkan makalah-makalah tersebut ke mobilnya.

Beberapa hari setelah nilai keluar di Kartu Hasil Study (KHS) saya melihat nilai saya A (sangat memuaskan) sedangkan teman saya yang kemampuan bahasa Indonesianya bagus dan membuat makalah dengan baik juga mendapatkan nilai B (memuaskan).

Saya jadi penasaran dengan hal ini, beberapa hari kemudian saya dan rekan-rekan dipanggil kerumahnya untuk di ajak mengerjakan sebuah proyek beliau. Sangat terkejutnya saya melihat makalah resensi yang kami buat masih terikat tanpa diperiksa dan ada nilai yang keluar. Hal seperti ini merupakan dosa bagi seorang guru.

4. Tidak meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi
Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi merupakan kewajiban seorang guru. Tapi banyak seorang guru  merasa cukup dengan kemampuannya dan tidak lagi mau belajar, ikut seminar, dan hal-hal yang dapat meningkatkan akademik dan kompetensinya.

5. Tidak Objektif, Diskriminatif terhadap peserta didik dalam pembelajaran
Sadar atau tidak mau sadar banyak guru-guru kita melakukan diskriminatif terutama diskriminatif terhadap status ekonomi orang tua peserta didik. Ingat diskriminatif dalam proses pembelajaran merupakan dosa.

6. Mengabaikan perundangan-undangan, hukum, kode etik guru, nilai agama dan etika
Guru yang baik merupakan guru yang taat terhadap perundang-undangan, hukum, kode etik guru, nilai agama dan etika.

Sederhananya, banyak yang tidak tahu jika guru menggunakan motor tanpa helm merupakan dosa yang bagi seorang guru. Karena guru sudah diamanahkan oleh UU No. 14 tahun 2005 untuk taat ke sumua perundang-undangan di Indonesia.

7. Merusak persatuan dan kesatuan bangsa
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa merupakan kewajiban bagi semua rakyat Indonesia. Jadi karena guru sudah diamanahkan juga oleh UU No 14 tahun 2005, guru mempunyai kewajiban ganda untuk menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

==========================================================
Kewajiban Guru menurut Undang-undang No. 14 Tahun 2005
==========================================================
  • Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  • Mengembang dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  • bertindak objektif, tidak deskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran
  • Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai agama dan etika, dan
  • memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
Mengapa kelalaian, hilaf atau kesalahan diatas kami anggap dosa, karena itu merupakan bagaian dari perjanjian kerja seorang guru.

Jika ada yang mau ditambahkan atau dikoreksi silakan komen di kolom bawah ya.

Wednesday, 14 October 2015

Berhenti Diakhir Skripsi Membuat Diriku Sukses

              Di kesempatan ini penulis akan mengisahkan sedikit pengalaman hidup yang sedang dijalani. tanggung tidak dislesaikan kuliahnya lhooo!!! kata tanggung adalah kata yang diucapkan pada semua yang mengenal saya. pada intinya sekolah itu penting. Jangan karena setelah Anda membaca artikel ini malah jadinya Anda tidak sekolah, karena disini kita akan membahas beberapa hal yang salah didalam sekolah dan belajar dari mereka yang dapat sukses walaupun mereka tidak lulus atau memiliki nilai biasa-biasa saja disekolah.

                Ada 3 hal yang salah dalam sekolah dan perlu kita pahami dengan baik. Tentu 3 hal berikut tidak mewakili semuanya tetapi mari kita pelajari satu-persatu


1.    Sukses di sekolah/kuliah tidak ada hubungannya dengan kesuksesan dalam hidup


                Mayoritas dari kita (hanya asumsi) sekolah dengan tujuan “uang”, yang artinya sekolah/kuliah lalu lulus mendapat gelar dan mencari pekerjaan yang lebih baik dengan bayaran yang lebih mahal. Sekolah/kuliah hanya memastikan Anda mendapat “gelar” dan “peluang pekerjaan” yang lebih baik. Artinya jika Anda sekolah/kuliah dengan nilai sebaik apapun tidak menjamin Anda mendapatkan pekerjaan/gaji yang lebih baik dari mereka yang biasa-biasa saja, tentu dengan nilai/IPK yang lebih tinggi mempermudah Anda untuk mencari pekerjaan atau lolos seleksi job interview, tapi peran sekolah hanya sejauh itu dalam karir Anda, sisanya tergantung Anda bagaimana Anda menjalankan pekerjaan dan meningkatkan value Anda sebagai karyawan. Intinya sekolah hanya menjamin Anda mendapatkan “peluang pekerjaan” yang lebih baik (job security), saya bilang “peluang” karena pada kenyataannya tidak semua sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah mereka.


              Kita bayangkan ilustrasi berikut:


               Di Indonesia jumlah sarjana dari tahun ke tahun terus meningkat, sedangkan kita tahu entrepreneur di Indonesia masih sangat minim. Dengan lapangan pekerjaan yang seadanya dan pertumbuhan sarjana tiap tahunnya, dapat dipastikan akan banyak sekali pengangguran S1 dan lebih banyak lagi pengangguran SMA nantinya. Perusahaan dapat mencari sarjana S1 dengan mudah sedangkan mereka yang sarjana memiliki pilihan yang seadanya. Nantinya mungkin ijazah S1 akan dianggap seperti ijazah SMA, apa arti ijazah S1 jika semua orang punya ijazah S1..?
                Kompetisi yang ada juga akan membuat kita semakin sulit untuk sukses karena basicnya kita bersaing dengan “semua orang yang sekolah/kuliah” dan sudah ada jutaan orang yang memiliki ilmu yang sama, jadi berpikirlah bagaimana untuk meningkatkan skill/value Anda atau menjadi unik dari yang lainnya.


2.    Sekolah adalah pembunuh kreativitas

          Untuk sukses dalam hidup Anda membutuhkan passion/hasrat dalam bekerja, bukan sesuatu yang dipaksakan hanya karena “semua orang melakukannya”. Tentu Anda masih ingat saat sekolah kita mempelajari belasan mata pelajaran yang pada akhirnya menyusut menjadi beberapa subjek saat kita kuliah. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah passion atau bakat Anda ada disana? Bagaimana jika bakat Anda adalah bermain basket, atau mendaji tenaga pengajar, atau mendjadi karyawan yang disiplin, atau menjadi atlit gaming, atau membuat video-video lucu di youtube, atau membuat komentar tentang video game di youtube? Itu semua tidak ada disekolah, Dan pada akhirnya orang-orang menua tanpa memiliki passion terhadap apapun. Mayoritas dari kita masih meremehkan bidang seni/kreatif dan menganggap akan sulit menghasilkan uang dari bidang tersebut. Pada kenyataannya memang tidak semua orang bisa sukses dibidang seni, begitu pula sebaliknya tidak semua orang bisa sukses dibidang akademik/sekolah. Are you an academic or an artist? Or something else..?


3. Sekolah (mayoritas) tidak melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan menghafal


              Kebanyakan sekolah (mungkin saya salah) tidaklah melatih kemampuan berpikir tetapi kemampuan kita menghafal. Contoh:
             ·         Biologi = Menghafal nama latin dan organ tubuh manusia
             ·         Fisika = Menghafal teori hukum alam dan rumus-rumus ilmuwan
             ·         Matematika = Menghafal rumus-rumus kalkulus dan perhitungan dimensi lainnya
             ·         Geografi = Menghafalkan fakta tentang bumi
             ·         Sejarah = … (sudah jelas)


            Mungkin contoh diatas tidak sepenuhnya benar, ada beberapa kasus yang membutuhkan kemampuan berpikir seperti pemecahan soal kasus matematika dan fisika (menggunakan logika), namun hampir sebagian besar apa yang dipelajari di sekolah/kuliah adalah hafalan. Hanya sedikit mata pelajaran yang betul-betul mengajarkan kita tentang berpikir. Beberapa bidang yang “menurut saya” betul-betul melatih kemampuan berpikir logika/nalar yaitu:

             ·         Coding/Programming
             ·         Teknik/Engineering
             ·         Komunikasi/Language
             ·         Art/Design

           kita memang bukan atau belum jadi orang sukses tentu saja kita gak gunakan kesuksesan mereka sebagai alasan untuk malas-malasan
   toh saya justru merasa bingung kenapa bisa jadi malas-malasan, karena setau ane mereka saat kuliah sudah bekerja dan stelah do mereka banting tulang dan memeras otak supaya ide mereka bisa direalisasikan dan sukses
     jadi jangan jadi malas-malas kuliah terus DO


                 Bukan pamer ataupun ri'a dalam waktu 24 jam saya bisa menghasilkan 500.000 yang untuk saya sudah sangat banyak, karyawan saya baru satu,, bagaimanakah dengan teman-teman saya yang lulus kuliah dengan nilai IPK sangat memuaskan?
      artikel saya hanyalah sebuah perbandingan, kesuksesan yang menentukan ALLAH SWT.


Wednesday, 26 August 2015

Kamu Mantan Anak Kost? Pasti Sekarang Ngerasain 6 Hal Ini Dong?


Emang sih rumah dengan segala kenyamanannya memang tiada duanya. kasih sayang yang kita dapat dari orang tua dan saudara adalah segala-galanya. bisa kembali ke rumah setelah beberapa lama bulan atau bahkan tahun merantau adalah kebahagiaan tak terkira.
Tapi tentu saja kamu akan merindukan saat-saat dimana kamu jauh dari rumah. karena secara sadar atau tidak sadar disana, di tanah rantaumu, di tempat tinggal sementaramu atau tempat kosmu, kamu telah memiliki kehidupan baru dan tentunya keluarga baru.

1. Kamu akan merindukan rasanya pulang kampung.

Yups! pulang kampung atau mudik adalah energi semangat buat anak kos. tentu saja rasa itu takkan kamu rasakan saat sudah di rumah. melihat aktivitas orang-orang sepanjang jalan. merasakan rindu terhadap rumah, orang tua, saudara, dan tentunya masakan ibumu.
Mereka akan sangat begitu berharga saat kamu jauh dari mereka. Begitu terasa saat sudah jauh. Jadi kamu akan begitu sangat menghargai saat-saat bis berkumpul dengan orang-orang tersayangmu. sayang ibu bapak :*.

2. Kamu rindu menu makanmu tiap hari.

Pagi sarapan soto, siang makan nasi padang, malam makan sate. jadi anak kos kamu bebas memilih menu makan sesuka hatimu. meskipun ketika tanggal tua menu-menu tadi berubah wujud jadi mie instan. beda halnya saat di rumah. satu hari kamu hanya makan menu yang sama. bahkan bisa sampai beberapa hari karena ibumu tak pernah ganti menu masakan :p.

3. Rindu teman-teman kos

Mereka adalah keluarga kedua kita. tinggal satu atap melewati suka duka bersama. tak jarang perselisihan terjadi. tapi tentu itu hal sudah biasa.  mereka adalah teman hidup kita, tempat berbagi sepi, mengadu nasib di tempat orang.
Tawa, canda, curhat, ngepoin pacar sesama teman kos sampai iseng mengambil toples cemilan punya temen kos dan mengembalikannya saat isi sudah kosong. dan itu takkan pernah terlupakan.

4.Rindu suasana malam kota

Buat kamu yang di rumah terkena warning sama orang tuamu tidak boleh keluar malam tentu hal ini akan sangat kamu rindukan. ya! saat jadi anak kos tentunya kamu bebas main kapan saja karena tak ada yan mengawasi dan melarang. kamu bebas keluar malam menikmati suasana dan kelap kelip lampu kota.

5. Rindu bangun siang

"Perawan koq bangunnya siang? ntar kalo dah punya suami gimana?"
Tentunya kalimat-kalimat itu takkan pernah kamu dengar saat menjadi anak kos. karena kehidupanmu hanya milikmu sendiri tanpa ada yang mengganggu.

6. Rindu bermalas-malasan sepanjang hari

Bangun tidur, tidur lagi. yah begitu seterusnya. itulah anak kos. bebas melakukan aktifitas karena tak terbebani dengan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. beda halnya saat kamu di rumah.kamu harus membantu ibumu menyapu, cuci piring, belajar masak, menyetrika pakaian milik penghuni satu rumah, dan berbagai aktifitas rumah tangga lainnya.
Hmm.... sekarang mikirkan? ngaku deh.. kamu mantan anak kos pasti merindukan saat-saat itu. Merasakan kehidupan jauh dari rumah merupakan pengalaman hidup yang berharga. Buat kalian yang saat ini masih jadi anak kos, nikmatilah karena hal itu hanya bisa kalian rasakan selagi masih muda dan masih lajang.
salam dariku, mantan anak kos :p

Saturday, 1 August 2015

Sosilogi Antropologi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan sosiologi antropologi pendidikan di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi antropologi pendidikan sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi antropologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Oleh karena itu mengetahui dan memahami seluk beluk sosiologi antropolgi pendidikan sangat dianjurkan guna mendapatkan pengetahuan yang menunjang perkembangan ilmu itu sendiri dan aplikasinya dalm kehidupan baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah, pengertian dan ruang lingkup sosiologi pendidikan?
2. Bagaimana sejarah, pengertian dan ruang lingkup antropologi pendidikan?
BAB II
SEJARAH, PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
SOSIOLOGI ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
A. Sejarah, Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang relatif baru, berkembang di awal abad 20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, karena dianggap dapat dipelajari atau merupakan salah satu sub dalam pembahasan sosiologi.
1. Sejarah Sosiologi Pendidikan
Kata atau istilah ”sosiologi” pertama-tama muncul dalam salah satu jilid karya tulis Auguste Comte (1978 – 1857) yaitu di dalam tulisannya yang berjudul ”Cours de philosophie Positive.” Oleh Comte, istilah sosiologi tersebut disarankan sebagai nama dari suatu disiplin yang mempelajari ”masyarakat” secara ilmiah. Dalam hubungan ini, ia begitu yakin bahwa dunia sosial juga ”berjalan mengikuti hukum-hukum tertentu” sebagaimana halnya dunia fisik atau dunia alam. (Faisal dan Yasik, tt:11)
Berdasarkan hal diatas, kita tahu bahwa Comte menyakini dunia sosial juga dipelajari dengan metode yang sama sebagaimana digunakan untuk mempelajari dunia fisik atau kealaman.
Dan bidang kajian sosiologi pendidikan sendiri, berangkat dari keinginan para sosiologi untuk meyumbangkan pemikirannya bagi pemecahan masalah pendidikan. Dalam pandangan mereka, pada saat itu sosiologi pendidikan diasosiakan dengan konsep ”Educational Sociology.”
Dalam perkembangannya, pada tahun 1914 sebanyak 16 lembaga pendidikan menyajikan mata kuliah ”Educational Sociology” pada periode berikutnya, muncul berbagai buku yang memuat bahasan mengenai ”Educational Sociology,” termasuk juga berbagai konsep tentang hubungan antara sosiologi dengan pendidikan.
Selama puluhan tahun pertama, perkembangan sosiologi pendidikan berjalan lamban. Perkembangan signifikan sosiologi pendidikan ditandai dengan diangkatnya Sir Fred Clarke sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Kependidikan di London pada tahun 1937. Clarke menganggap sosiologi mampu menyumbangkan pemikiran bagi bidang pendidikan.
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation. Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Adapun perkembangan sosiologi di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi yang salah satunya adalah sosiologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
2. Pengertian Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Dilihat dari istilah etimologi kedua kata ini tentu berbeda makna, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia, keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, terutama dalam sistem memberdayakan manusia dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.
a. Sosiologi
Secara etimologis sosiologi berasal dari kata latin “socius” dan kata Yunani “logos”. “Socius” berarti kawan, sahabat, sekutu, rekan, masyarakat. “logos” berarti ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. (Chaerudin, dkk, 1995:67)
Dari segi isi, banyak ahli sosiologi mengemukakan berbagai definisi. Kita ambil sejumlah definisi untuk memberi gambaran tentang sosiologi.
W.F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam buku mereka “A Handbook of Sociology”, memberikan definisi sosology is the scientific of social life; yang maksudnya : sosiologi adalah studi secara ilmiah terhadap kehidupan sosial. (Ahmadi, 1984:9)
Roucek dan Wafren : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. (Soekanto, 1989:16).
Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi adalah mempelajari tentang masyarakat manusia dalam bentuknya yang bermacam-macam, watak dan ciri-ciri dari pada tiap-tiap bentuk itu dan hukum yang menguasai perkembangan. Sementara Prof. Groenman mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan-tindakan manusia dalam usahanya menyesuaikan diri dalam suatu ikatan. Penyesuaian ini meliputi:
1. menyesuaikan diri terhadap lingkungan geografi
2. menyesuaikan diri pada sesama manusia
3. penyesuaian diri dengan lingkungan kebudayaan sekelilingnya
(Ahmadi, 1989:9-10).
Dari rumusan diatas kita dapat menarik kesimpulan, yaitu bahwa sosiologi adalah:
1. merupakan hidup bermasyarakat dalam arti yang luas
2. perkembangan masyarakat di dalam segala aspeknya
3. hubungan antar manusia dengan manusia lainya dalam segala aspeknya
b. Pendidikan
Paedegogic berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “pais”, artinya anak, dan ”again” diterjemahkan membimbing, jadi paedagogic yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak.
Secara definitif pendidikan (paedagogic) diartikan, sebagai berikut:
1. Jhon Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
2. Langeveld
Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan di sengaja antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa (Suwarno, 1992:49)
3. Ki Hajar Dewantara
Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
4. Undang-undang Republik Indonesia SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.
c. Sosiologi Pendidikan
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri. (Faisal dan Yasin, tt:39)
Beberapa pengertian sosiologi pendidikan yang lain termuat dalam Nasution (2004: 4):
1. menurut George Payne, yang kerap disebut bapak Sosiologi pendidikan, secara spesifik memandang sosiologi pendidikan sebagai studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segala segi ilmu yang dterapkan. Baginya, sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan sosiologis. Adapun menurutnya adalah memberikan guru-guru, para peneliti yang efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan.
2. F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasikan pengalamannya. Sosiologi pendidikan juga mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
3. E.B.Reutern: Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi pada dasarnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial saling mempengaruhi (process social interaction).
Tidak ketinggalan, Gunawan (2006:2) mengemukakan definisinya tentang sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat dalam pendidikan, merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat berinteraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi lain, sosiologi pendidikan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan suatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
3. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Penelitian dan analisis terhadap sistem pendidikan berdasarkan keduanya yang sekarang, tentunya sudah bisa dikuatkan antar-antar ruang lingkup sosiologi pendidikan. Karena minat dan pengalaman, ruang lingkup yang diajukan ini terbatas pada wilayah analisis seputar sistem pendidikan formal.
Dalam hubungan ini, Nasution (2004:6-7), mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
1. hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a. hubungan pendidukan dengan sistem sosial atau struktur sosial
b. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d. fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya
2. hubugan antar manusia di dalam Sekolah
a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b. pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
3. pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan
a. peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
4. hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan.
Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a. Pengaruh masyakarat atas organisasi Sekolah /lembaga pendidikan
b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara Sekolah dan masyarakat pendidikan dan
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.
B. Sejarah, Pengertian dan Ruang Lingkup Antroplogi Pendidikan
1. Sejarah Antropologi Pendidikan
Sejarah tentang antroplogi pendidikan tidak bisa kita pisahkan dari perkembangan ilmu antropologi itu sendiri, karena antropologi pendidikan merupakan bagian dari antroplogi.
Antroplogi sebagai sebuah ilmu mengalami tahapan-tahapan dalam dalam perkembangannya. Koentjaraningrat (1986:1-5) membaginya ke dalam 4 (empat) tahap.
Tahap pertama, ditandai dengan tulisan tangan bangsa Eropa yang melakukan penjajahan di benua Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad ke-15. Tulisan itu merupakan deskripsi keadaan bangsa-bangsa yang mereka singgahi. Deskripsi yang dituliskan mencakup adat istiadat, suku, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik. Deskripsi tersebut sangat menarik bagi masyarakat Eropa karena berbeda dengan keadaan di Eropa pada umumnya. Bahan deskripsi itu disebut juga Etnografi (Etnos berarti bangsa)
Tahap kedua, mereka menginginkan tulisan-tulisan atau deskripsi yang tersebar itu dikumpulkan jadi satu dan diterbitkan. Isinya disusun berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat, yaitu masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat, dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi. Dari sinilah bangsa-bangsa digolongkan menurut tingkat evolusinya. Sekitar tahun 1860, terbit karangan yang mengaklasifikasikan berbagai kebudayaan tingkat evolusinya. Saat itu lahirlah antropologi.
Dengan demikian pada tahap kedua ini, antroplogi telah bersifat akademis. Pada tahap ini, antropologi mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitiv untuk memperoleh pengertian mengenai tingkat-tingkat perkembangan dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran manusia di dunia.
Tahap ke tiga, antropologi menjadi ilmu yang praktis. Pada tahap ini, antropologi mempalajari masyarakat jajahan demi kepentingan kolonial. Hal ini berlangsung sekitar awal abad ke-20. Pada abad ini, antropologi semakin penting untuk mengukuhkan dominasi bangsa-bangsa Eropa Barat di daerah jajahannya. Dengan antropologi, bangsa Eropa mempelajari dan tahu bagaimana menghadapi masyarakat daerah jajahannya. Selain itu, bangsa–bangsa terjajah pada umumnya belum sekompleks bangsa Eropa Barat. Oleh karena itu, mempelajari bangsa-bangsa terjajah bagi bangsa Eropa dapat menambah pengertian mereka tentang masyarakat mereka sendiri (Bangsa Eropa Barat) yang kompleks.
Tahap ke empat, antropologi berkembang sangat luas, baik dalam akurasi bahan pengetahuanya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Hal ini berlangsung sekitar pertengahan abad ke-20. Sasaran penelitian antropologi di masa ini bukan lagi suku bangsa primitiv dan bangsa Eropa Barat, tapi beralih pada penduduk pedesaan, baik mengenai keanekaragaman fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya termasuk suku bangsa di daerah pedesaan di Amerika dan Eropa Barat itu sendiri, peralihan sasaran penelitian itu terutama disebabkan oleh munculnya ketidaksenangan terhadap penjajahan dan makin berkurangnya masyarakat yang dianggap primitiv.
Seperti halnya antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha menyusun genaralisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.
Shomad (2009:1) menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Di Indonesia, sebagai negara yanag sedang membangun, sangat diperlukan pengenalan kondisi yang lebih baik dan lebih lengkap agar pembangunan yang diberlakukan tidak menimbulkan kesenjangan dengan kondisi yang sejatinya. Antropologi pendidikan sering sejalan dengan perkembangan tersebut. Dewasa ini antropologi pendidikan sendiri atau bersama-sama dengan sosiologi pendidikan, menjadi mata kuliah wajib di lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
2. Pengertian Antropologi Pendidikan
a. Antroplogi
Antropologi berasal dari kata Yunani ”antrophos” yang berarti ”manusia” dan ”logos” yang berarti ”ilmu”. Jadi antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk masyarakat. Menurut R. Bedediet (Harsojo,1984:1) perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat khusus badaniah dan cara produksi tradisi serta nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya.
Definisi tentang antropologi juga muncul dalam situs wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi), yaitu :
• William A. Havilan
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisai yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
• David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia
• Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk pada fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antroplogi yaitu sebuah ilmu yanag mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnnya berbeda-beda.
b. Pendidikan
Ngalim Purwanto (1995:11) menyatakan bahwa pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Esensi dari pendidikan itu sendiri ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda setiap masyarakat atau bangsa.
c. Antropologi Pendidikan
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan. (Imran Manan dalam Zamzami, http://Izamzami.multiply.com/reviews/item/s)3)
Menurut Shomad (2009:1), antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.
Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, sehingga antropologi menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat.
3. Ruang Lingkup Antropologi Pendidikan
Ralphlinton dalam Shomad (2009:3) menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.
Lebih lanjut, Shomad (2009:3-4), menjelaskan implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung dalam proses:
a. Proses sosialisasi:
Proses ini dimulai sejak bayi baru lahir. Bayi berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, hingga terjadi komunikasi timbal balik dan seterusnya hingga ia tumbuh dan berkembang.
Adapun yang menjadi sorotan dalam proses sosialisasi yaitu:
1. adanya konflik oleh ketidakharmonisan antara keinginan pribadi, anak dengan tuntutan norma dan aturan yang berlaku
2. perbedaan status ekonomi dan letak geografis
b. Proses Enkulturasi
Enkulturasi, artinya pembudayaan. Yang dimaksud adalah proses pembudayaan anak agar menjadi manusia berbudaya.
Dalam proses ini pranata, yaitu sistem norma atau aturan-aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. (Koentjaraningrat,1980:164).
Adapun yang biasa menjadi kajian dalam proses ini, yaitu:
1. Perbedaan jenis kelamin
2. Perbedaan umur
3. Perbedaan/perubahan status (inisiasi)
c. Proses Internalisasi
Proses internalisasi yaitu proses penerimaan dan menjadikan warisan sosial (pengetahuan budaya) sebagai isi kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku sehari-hari selama hayat masih dikandung badan.
Dalam proses ini kita mendapatkan adanya perbedaan pada masing-masing individu berupa perbedaan kepribadian dan pengalaman.
BAB III
KESIMPULAN
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation. Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.
Nasution mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
• hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
• hubungan antar manusia di dalam Sekolah
• pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan
• hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Shomad menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan
Ralphlinton menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.

Pengantar Pendidikan

PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pengertian Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.

John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M)


menjabarkan bahwa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan.



Pendidikan, menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

John Dewey, mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

Hal senada juga dikemukakan oleh Edgar Dalle bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Thompson mengungkapkan bahwa Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya.

Ditegaskan oleh M.J. Longeveled bahwa Pendidikan merupakan usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan Istilah ‘Pendidikan’ berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat.

Ibnu Muqaffa (salah seorang tokoh bangsa Arab yang hidup tahun 106 H- 143 H, pengarang Kitab Kalilah dan Daminah) mengatakan bahwa : “Pendidikan itu ialah yang kita butuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan semua indera kita seperti makanan dan minuman, dengan yang lebih kita butuhkan untuk mencapai peradaban yang tinggi yang merupakan santaan akal dan rohani.”

Plato (filosof Yunani yang hidup dari tahun 429 SM-346 M) menjelaskan bahwa Pendidikan itu ialah membantu perkembangan masing-masing dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang memungkinkan tercapainya kesemurnaan.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian Pendidikan , yang berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Dari beberapa Pengertian Pendidikan diatas dapat disimpulkan mengenai Pendidikan, bahwa Pendidikan merupakan Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain” (Langeveld).

2.      TUJUAN PENDIDIKAN
a.       Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan pendidikan yang paling tinggi dari hirerarkis tujuan pendidikan yang ada, yang bersifat ideal dan umum yang dikaitkan dengan falsafah pancasila. Menurut undang-undang no.2 tahun 1989 tentang system pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk menciptakan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesahatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap, mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (uu no.2 tahun 1989)
Tujuan pendidikan nasional menurut uu no.2 tahun 1989 pada dasarnya untuk membentuk anak didik menjadi manusia yang seutuhnya, yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi serta beriman dan bertaqwa atau dikenal juga untuk membentuk manusiapancaslais.
b.      Tujuan institusional
Tujuan institusional merpakan tindak lanjut dari tujuan pendidikan nasional. System pendidikan di Indonesia memiliki jenjang yang melembaga pada suatu tingkatan. Tiap lembaga memiliki tujuan pendidikan ang disebut tujuan institusional, sehingga dikenal bermacam-macam tujuan institusional, antara lain:tujuan institusional SD/MI, SMP/MTs, SMU/MA/SMK, universitas/akademi/IAIN/STAIN, dan lain sebagainya.Keberadaan tujuan pendidikan meski menggambarkan kelanjutan dan memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan pendidikan nasional.
Agar tidak terjadi penyimpangan maka tiap tujuan institusional mesti didahului dengan pengertian pendidikan,dasar pendidikan, tujuan pendidikan nasional, dan tujuan umum lembaga yang dimaksud.
c.       Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler merupakan tindak lanjut dari tujuan instruksional. Dalam melaksanakan kegiatan pendidikan dari suatu lembaga pendidikan maka isi pengajaran yang telah disusun diharapkan dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Suatulembaga pendidikan memiliki tujuan kurikuler yang biasanya dapat dilihat dari GBPP dari suatu bidang study, dari GBPP (garis-garis program pengajaran) tersebutterdapat suatu tujuan kurikulum yang perlu dicapai oleh anak didik setelah ia menyelesaikan pendidikanya.Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa tujuan kurikuler meski mencerminkan sebagai tindak lanjut dari tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional, sehingga penjabaran tujuan institusional dan tujuan pendidikan nasional meski menggambarkan tujuan kurikuler. Sehingga akan terlihat jelas hubungan hirarkis dari ketiga tujuan pendidikan tersebut.
d.      Tujuan instruksional
Tujuan instruksional merupakan tujuan akhir dari tiga tujuan yang telah ditemukan terdahulu. Tujuan ini bersifat operasional, yakni diharapkan dapat tercapai pada saat terjadinya proses belajar mengajar yang terjadi langsung dan terjadi setiap hari. Untuk mencapai tujuan-tujuan instruksional ini biasanya seorang pendidik atau guru perlu membuat satuan pembelajaran(SP)tujuan instruksional ini dalamupaya mencpai tujuanya sangat ditemukan oleh kondisi proses belajar mengajar yang ada, antara lain: kompetensi pendidik, fasilitas belajar, anak didik, metode,lingkungan, dan factor yang lain


3.      ASAS ASAS PENDIDIKAN
Pengertian Asas Pendidikan
     Ketentuan yg harus dipedomani atau menjadi pegangan dlm melaksanakan pendidikan agar tercapai tujuannya
·        Macam-macam Asas Pendidikan
ü  Ing Ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (kalau didepan pendidik memberi contoh, kalau ditengah memberi dorongan, dan kalau dibelakang memberikan pengaruh yg baik menuju hal yg baik)
ü  Pendidikan Sepanjang Hayat (long life education), bhw pend dimulai sejak lahir sampai mati
ü  Asas Semesta, menyeluruh & Terpadu artinya pendidikan di Indonesia terbuka bagi seluruh rakyat, berlaku di seluruh wilayah negara, serta mencakup semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan serta saling berkaitan antara usaha pendidikan dengan pembangunan
ü  Asas Manfaat, bhw pendidikan baik dalam keluarga, sekolah maupun luar sekolah harus dilaksanakan dengan mengingat asas kemanfaatan bagi masa depan
ü  Asas usaha bersama, menekankan pada kebersamaan, baik pelaksanaan maupun tanggungjawab antara keluarga, sekolah dan masyarakat (tri pusat pendidikan)
ü  Asas Demokratis, pendidikan harus dilaksanakan dalam suasana dan hubungan yg proporsional antara pendidik dan si terdidik
ü  Asas Adil dan Merata, asas yg diterapkan dalam menghadapi situasi yang beraneka ragam
ü  Asas perikehidupan dalam keseimbangan
ü  Asas kesadaran hukum
ü  Asas kepercayaan pada diri sendiri, bhw pendidik dan si terdidik harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri agar masing-masing tidak ragu-ragu dalam melaksanakan tugasnya.
ü  Asas efisiensi dan efektivitas, asas yang menghendaki pendidikan memiliki kehematan dalam keberhasilan serta hasil guna yang tinggi
ü  Asas mobilitas, dalam mendidik harus aktif, kreatif, trampil, lincah dan bersahaja.
ü  Asas fleksibilitas, dalam mendidik kita harus bersikap fleksibel baik dalam materi ajar maupun dalam hal caranya.

A. Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
ü  Manusia memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efektif dan efisien itulah yang disebut pendidikan. Sedangkan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat (Umar Tirtaraharja et. al., 1990:39-40 dalam Tirtarahardja, 2005:163).

ü  Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika) dalam (Hartoto, 2008) yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes. Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan (Hartoto, 2008).

ü  Lingkungan pendidikan merupakan salah satu unsur di dalam pendidikan sebagai sebuah sistem (Nurchotimah, 2009). Menurut Kosim (2008), lingkungan pendidikan adalah suatu institusi atau kelembagaan dimana pendidikan itu berlangsung. Menurut Mudyahardjo (2008:3), lingkungan pendidikan adalah pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan hidup, baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Jadi, lingkungan pendidikan adalah suatu unsur dalam pendidikan berupa tempat, keadaan, alat, peristiwa, orang, benda yang berhubungan dengan pendidikan dan menunjang proses belajar mengajar hingga terwujudnya tujuan pendidikan.

ü  Lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, sebab lingkungan pendidikan tersebut berfungsi menunjang terjadinya proses belajar mengajar secara aman, nyaman, tertib, dan berkelanjutan (Kosim, 2008). Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal (Hartoto, 2008).

ü  Tujuan pendidikan menurut UU RI No. 20 tahun 2003 tentang UU SISDIKNAS Pasal 3 yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan, pendidikan formal, nonformal, dan informal sangat berpengaruh. Ketiga pendidikan tersebut tergolong jalur pendidikan. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan (UU RI No. 20 tahun 2003 tentang UU SISDIKNAS Pasal 1 ayat 8).

ü  Menurut UU RI No. 20 tahun 2003 tentang UU SISDIKNAS Pasal 1 ayat 11-13, pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formalyang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

ü  Lingkungan disini dapat berupa masyarakat. Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu belajar berbagai hal, baik pola-pola tingkah laku umum maupun peranan yang berbeda-beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi dan menyiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu.

ü  Pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan yaitu membimbing, mengajar, dan melatih (Ayat 1 Pasal 1 UU RI No. 2/1989 dalam Tirtarahardja, 2005:165). Meskipun ketiga kegiatan itu pada hakikatnya tri tunggal, namun dapat dibedakan aspek tujuan pokok dari ketiganya yaitu:
1.      Membimbing, berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi-segi perilaku umum (aspek afektif).
2.      Mengajar, berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan (aspek kognitif).
3.      Melatih, berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran (aspek psikomotorik).
Pemantapan ketiga sisi tujuan pendidikan itu yakni manusia yang sadar akan harkat dan martabatnya, menguasai ilmu pengetahuan, dan memiliki suatu spesialisasi/keterampilan tertentu, yang disebut sebagai manusia seutuhnya. Di masa depan ketiga sisi itu sangat penting karena harus mampu menyesuaikan diri dengan era globalisasi dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan dari segi lain, harus mampu memenangkan persaingan yang semakin ketat dan tampil sebagai yang unggul dalam bidang spesialisasinya. Karena itu peningkatan fungsi ketiga lingkungan pendidikan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama akan sangat penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu.

B. Tripusat Pendidikan
Kehidupan manusia merupakan kehidupan yang terintegrasi dan kontinyu serta tidak dapat dilepaskan antara satu dengan lainnya. Manusia sepanjang hidupnya akan selalu menerima pengaruh dari lingkungan pendidikan. Ki Hajar Dewantara misalnya memperkenalkan dengan istilah tripusat pendidikan; yang dimaksud adalah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, dimana anak mendapatkan pendidikannya (Soelaeman, 1988).

1. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan terpenting. Dikatakan pertama karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Dikatakan terpenting karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah dalam keluarga. Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga (Indrakusuma, 1973:109).

Hartoto (2008) mendefinisikan keluarga sebagai berikut:
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik.

Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan sedarah. Keluarga dapat berbentuk keluarga inti (nucleus family: ayah, ibu dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (disamping inti, ada orang lain: kakek/nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain).

Tugas utama keluarga bagi pendidikan anak adalah meletakkan dasar-dasar pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orangtuanya dan anggota keluarga yang lain. Faktor-faktor dalam keluarga yang mempengaruhi tumbuh kembangnya anak, seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran, keadaan perumahannya, dan sebagainya. Dengan kata lain, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh keseluruhan situasi dan kondisi keluarganya.
Perkembangan kebutuhan dan aspirasi individu maupun masyarakat, menyebabkan peran keluarga tehadap pendidikan anak-anaknya juga mengalami perubahan. Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umunya tidak mampu memenuhinya. Oleh karena itu, sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan formal ataupun nonformal (kursus, kelompok belajar, dan sebagainya).
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang UU SISDIKNAS Pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Dari penjelasan tersebut dapat di ketahui bahwa orang tua atau keluarga sangat berperan untuk mendidik anak dalam hal agama, budaya, dan moral. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak hanya bagi anak-anak tetapi juga bagi para remaja.

Maraknya seorang ayah dan ibu (khususnya) yang bekerja di luar rumah mengharuskan mereka berada di luar rumah dalam beberapa jam hampir setiap hari kerja. Peran pemeliharaan fisik mungkin dapat dilakukan oleh orang lain, namun peran edukatif dari ibu sukar disubtitusi oleh orang lain, utamanya pembantu rumah tangga. Kecenderungan lain adalah berkembangnya lembaga pendidikan prasekolah pada jalur luar sekolah seperti kelompok bermain dan penitipan anak.

Di masa depan, peran pembantu rumah tangga dalam pendidikan keluarga maupun fungsi edukatif dari kelompok bermain dan penitipan anak perlu mendapat perhatian, agar dapat diyakinkan kontribusinya dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu. Keluarga juga seharusnya mendukung program-program lingkungan pendidikan lainnya (kelompok bermain, penitipan anak, sekolah, kursus/kelompok belajar, organisasi pemuda, dan lain sebagainya).

Keikutsertaan keluarga itu dapat pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan, maupun dalam evaluasi dan pengembangan, dan dengan berbagai cara (daya, dana, dan sebagainya). Tidak kalah pentingnya dalam upaya koordinasi dan keserasian antar ketiga pusat pendidikan itu. Oleh karena itu, untuk memperbaiki keadaan masyarakat seperti itu perlu adanya perbaikan dalam pendidikan keluarga.

2. Sekolah
Di antara tiga pusat pendidikan, sekolah merupakan sarana secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orangtua dalam keluarga terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap IPTEK. Semakin maju masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya itu.

Sekolah seharusnya menjadi pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia Indonesia sebagai individu, warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia di masa depan. Sekolah yang demikianlah yang diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal, yakni mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional.
Sekolah sebagai pusat pendidikan adalah sekolah yang mencerminkan masyarakat maju karena pemanfaatan secara optimal ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada ciri keindonesiaan. Dengan demikian, pendidikan di sekolah seharusnya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan, pengusaan pengetahuan, dan pemilikan keterampilan peserta didik. Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah, antara lain:

a. Pengajaran yang Mendidik
Pengajaran ini secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan instruksional bidang studi dan tujuan-tujuan umum pendidikan lainnya. Mendidik tidak cukup hanya dengan memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan saja namun pendidik juga menanamkan kepada anak nilai-nilai dan norma-norma susila yang tinggi dan luhur. Hal itu dapat terlaksana dengan efisien dan efektif apabila pendidik mempunyai wawasan kependidikan yang mantap serta menguasai berbagai strategi belajar mengajar.
Dalam upaya mewujudkan pengajaran yang mendidik, perlu pula dikemukakan bahwa setiap keputusan dan tindakan guru dalam rangka kegiatan belajar mengajar akan membawa berbagi dampak atau efek kepada siswa, baik efek instruksional (instructional effect) yang merupakan efek langsung dari bahan ajaran yang menjadi isi pesan dari belajar mengajar, maupun efek pengiring (nuturant effect) yang merupakan efek tidak langsung dari bahan ajaran dan atau pengalaman belajar yang dihayati oleh siswa sebagai akibat dari strategi belajar mengajar yang menjadi landasan dari kegiatan belajar mengajar tersebut. Baik efek instruksional maupun efek pengiring merupakan hal yang sangat penting dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus mendapat perhatian yang seimbang oleh setiap guru dalam perancangan dan pelaksanaan program belajar mengajar (Sulo Lipu La Sulo, 1990: 55-54 dalam Tirtarahardja, 2005:175).
Dengan demikian, pemilihan kegiatan belajar mengajar yang tepat, baik ditinjau dari efek instruksional maupun efek pengiring, akan memberikan pengalaman belajar siswa yang efisien dan efektif untuk mewujudkan pengembangan manusia Indonesia seutuhnya.

b. Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP) di sekolah, agar program edukatif ini tidak hanya menjadi komplemen yang setara dengan program pengajaran serta program-program lainnya di sekolah. Seperti diketahui, bidang garapan BP adalah perkembangan pribadi peserta didik, khususnya aspek sikap dan perilaku atau kawasan efektif. Pengembangan kepribadian ke arah penyadaran jati diri sebagai manusia Indonesia merupakan sisi lain dari tujuan pendidikan, di samping penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan afektif dapat diawali dengan kajian tentang nilai dan sikap yang seharusnya dikejar lebih jauh dalam perwujudannya melalui perilaku sehari-hari, khusunya selama berada di sekolah. Sekolah seharusnya dikembangkan menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan yang mencerminkan suatu masyarakat Pancasilais.

c. Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB), yang mengelola bukan hanya bahan pustaka tetapi juga sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun yang dimanfaatkan. Dengan kedudukan sebagai PSB diharapkan perannya akan lebih aktif dalam mendukung program pengajaran, bahkan dapat berperan sebagai “mitra kelas” dalam upaya menjawab tantangan perkembangan iptek yang semakin cepat. Pengembangan PSB itu dapat dilakukan secara bertahap sehingga pada akhirnya dapat berperan ganda yakni sebagai “mitra kelas” dalam proses belajar mengajar dan tempat pengkajian berbagai pengembangan sistem instruksional. Suatu PSB yang memadai akan dapat mendorong siswa dan warga sekolah lainnya untuk belajar mandiri.

d. Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah, khususnya yang terkait dengan peserta didik, pengelolaan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi dari suatu masyarakat Pancasilais sebagaimana yang dicita-citakan dalam tujuan nasional. Iklim kehidupan di sekolah mencerminkan kehidupan masyarakat yang dicita-citakan yakni masyarakat demokratis yang dinamis dan terbuka.
Demikianlah beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan.

3. Masyarakat
Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yakni:
a.       Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan.
b.      Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c.       Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility).
Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia di dalamnya. Terdapat sejumlah lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial yang mempunyai peran dan fungsi edukatif yang besar, antara lain: kelompok sebaya, organisasi kepemudaan, organisai keagamaan, organisasi politik, media massa, dan sebagainya. Lembaga atau kelompok sosial tersebut pada umumnya memberikan kontribusi bukan hanya dalam proses sosialisasi, tetapi juga dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggotanya.
Setelah keluarga, kelompok sebaya mungkin paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian, terutama pada saat anak berusaha melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan orang tua. Pada masa peralihan ini sering terjadi konflik antara orang tua dan anak. Yang dimaksud kelompok sebaya (peers group) adalah suatu kelompok yang terdiri orang-orang yang bersamaan usianya, antara lain: kelompok bermain pada masa kanak-kanak, kelompok monoseksual yang hanya beranggotakan anak-anak sejenis kelamin, atau gang yaitu kelompok anak-anak nakal. Dampak edukatif dari keanggotaan kelompok sebaya itu antara lain karena interaksi sosial yang intensif dan dapat terjadi setiap waktu, dan dengan melalui peniruan (model) serta mekanisme penerimaan/penolakan kelompok. Terdapat beberapa fungsi kelompok sebaya terhadap anggotanya (Wayan Ardhana, 1968: Modul 5/19 dalam Tirtarahardja, 2005:181) antara lain:
a)      Mengajar berhubungan dan menyesuaikan diri dengan orang lain.
b)      Memperkenalkan kehidupan masyarakat yang lebih luas.
c)      Menguatkan sebagian dari nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat orang dewasa.
d)     Memberikan kepada anggota-anggotanya cara-cara untuk membebaskan diri dari penguasaan kekuasaan otoritas.
e)      Memberikan pengalaman untuk mengadakan hubungan yang didasarkan pada prinsip permasaan hak.
f)       Memberikan pengetahuan yang tidak bisa diberikan oleh keluarga secara memuaskan (pengetahuan mengenai cita rasa berpakaian, musik, jenis tingkah laku tertentu, dan lain-lain).
g)      Memperluaskan cakrawala pengalaman anak, sehingga ia orang yang lebih kompleks.
Organisasi kepemudaan pada umumnya mempunyai prinsip dasar yang sama yakni menyalurkan hasrat kelompok pemuda kepada hal-hal yang berguna. Organisasi ini mempunyai berbagai jenis latar belakang yang berbeda, seperti sosial-edukatif (OSIS, PMR, Pramuka, dan sebagainya), sosial keagamaan, sosial-politik dan lain sebagainya. Disamping penambahan pengetahuan dan keterampilan, organisasi kepemudaan tersebut terutama sangat bermanfaat dalam membantu proses sosialisasi serta mengembangkan aspek afektif dari kepribadian (kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian).
Peranan organisasi keagamaan pada umumnya sangat penting karena berkaitan dengan keyakinan agama. Organisasi ini menyediakan pendidikan bagi anak-anaknya, yakni:
a)      Mengajarkan keyakinan serta praktek-praktek keagamaan dengan cara memberikan pengalaman-pengalaman yakng menyenangkan bagi mereka.
b)      Mengajarkan kepada mereka tingkah laku dan prinsip-prinsip moral yang sesuai dengan keyakinan-keyakinan agamanya.
c)      Memberikan model-model perkembangan bagi watak.